What is feature?
What is New?
','6','showsimpleslides' );
Tampilkan postingan dengan label wisata bangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata bangka. Tampilkan semua postingan

TI Apung di Belinyu Mulai Menggeliat


          Beberapa pekan ini TI Apung Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus Kelurahan Bukit Ketok Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka mulai beroperasi kembali. Pantauan salah satu surat kabar lokal beberapa waktu yang lalu, di dua pantai yaitu Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus. Para pelaku penambang masih terlihat beraktivitas yang sama di kedua pantai tersebut. Masing - masing penambang ada yang telah beroperasi di laut. Pontoon - pontoon TI Apung telah berjejeran di laut.

              Sama halnya di kedua pantai untuk bersiap - siap akan beroperasi. Menurut penambang menjelaskan ponton yang telah beroperasi telah didaftar di panitia masing - masing di kedua pantai diperkirakan telah berjumlah lebih dari 100 ponton dan bulan - bulan dengan sekitar bulan April nanti diperkirakan bisa mencapai 400 san ponton di kedua pantai Batu Atap dan Pantai Bubus.

         Menurut pantauan Media ini, di kedua pantai sangat meyakinkan dikarenakan persiapan - persiapan para penambang seperti pembuatan bangunan - bangunan kamp - kamp tenda tempat pemukiman para penambang terlihat menjamur menghiasi bibir pantai.( Pangkalpinang pos edisi 187, hal 17)

      Jika kita membaca ada dua masalah yang akan timbul ketika para penambang tersebut memulai penambangan nya di pantai . masalah tersebut seperti dua mata uang logam yang saling berlawanan. masalah pertama adalah ketika mereka melakukan penambangan di bibir pantai maka yang akan terjadi adalah ekosistem yang ada di sekitarnya akan terganggu. Seperti rusaknya air laut karena tercemar, ikan - ikan akan menjauh, dan masalah lainnya yang timbul dikarenakan penambangan tersebut. tetapi ketika para penambang tersebut di tutup atau di tertibkan maka masalah yang timbul adalah mata pencarian penambang tersebut akan hilang. karena sebagian dari mereka mata pencaharian adalah penambang timah. dengan hasil yang didapat dari menambang tersebut digunakan untuk menghidupkan keluarganya. di sinilah peran Pemerintah Daerah untuk mencari solusi yang tepat,  yaitu solusi yang tidak merugikan alam dan juga tidak merugikan para penambang tersebut.

           Jika pembaca mempunyai solusi yang menurut teman, sobat, dapat mengatasi masalah penambangan TI terapung, bisa menuangkan idenya dengan megomentari berita atau topik ini. terima kasih

Perigi Pekasem ( Tuatunu )


             Sumur atau perigi pekasem terletak di Kelurahan Tuatunu Indah Kecamatan Gerunggang. perigi atau sumur ini dijadikan tempat untuk membuang mayat orang -orang yang terbunuh oleh TKR ( Tentara Keamanan Rakyat , karena dianggap musuh atau sebagai mata - mata Belanda atau sekutu. Tuatunu sendiri pada waktu itu merupakan kampong yang di jadikan salah satu markas TKR yang terletak di Hutan Titi Rengas, Kampung Cekong Abang Air Duren dan di hutan Arang, Air Kepala Tujuh Tuatunu. TKR sendiri dibentuk oleh pemerintah berdasarkan maklumat tanggal 5 oktober 1945. dikarenakan situasi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru terbentuk dalam keadaan genting dan berbahaya karena kedatangan tentara Belanda ( NICA ) karena ingin kembali menguasai Indonesia.




sumber : Pangkalpinang pos edisi 187

Menilik Budaya yang Terkikis di Desa Kota Kapur Kecamatan Mendo Barat

BAB 1
PENDAHULUAN


A.    Latar belakang
Indonesia yang terkenal sebagai bangsa multikulturalisme memiliki banyak keanekaragaman identitas. Contoh kecilnya adalah Pulau Bangka. Pulau Bangka terdiri dari beragam desa yang kental dengan ketradisionalannya yang tentunya memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas itulah yang dilihat sebagai identitas desa itu. Identitas itu seharusnya dijaga dan dipelihara agar tetap merepresentatifkan ciri khas sebuah desa.
Namun dewasa ini, istilah ‘desa rasa kota’ semakin digemari. Arus globalisasi yang makin pesat lambat laun telah menggeser identitas yang telah membudaya pada suatu desa. Selain itu, masuknya teknologi yang kian canggih ke suatu desa terkadang disalahgunakan. Penyalahgunaan itu yang menyebabkan masyarakat suatu desa sedikit demi sedikit melupakan budaya yang telah mereka cipta.
Keramaian kota memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap budaya yang menjadi identitas suatu desa. Semakin hari identitas itu semakin luntur. Lunturnya identitas itu justru melahirkan perilaku konsumtif pada suatu kelompok masyarakat. Semua yang dibutuhkan ingin diperoleh dengan waktu yang relatif singkat layaknya di sebuah kota.
Salah satu desa yang mengalami pergeseran budaya itu adalah desa Kota Kapur. Desa tersebut dulunya kental dengan nuansa adat tapi seiring perkembangan zaman terdapat banyak perubahan yang membedakan desa Kota Kapur dulu dengan yang sekarang. Perubahan itu yang membuat desa Kota Kapur tak jauh beda dengan desa yang lain. Pergeseran budaya itu menjadi perhatian kami untuk menilik budaya apa yang terkikis di desa Kota Kapur.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
“Budaya apa saja yang telah terkikis di desa Kota Kapur kecamatan Mendo Barat?”



BAB 2
PEMBAHASAN


Desa Kota Kapur adalah desa yang terletak di kecamatan Mendo Barat kepulauan Bangka Belitung. Sebelah barat berbatasan dengan laut lepas,timur hutan luas,sebelah selatan berbatasan dengan Desa penagan ,dan sebelah utara berbatasan dengan sungai tanjung raya yang bermuara ke laut lepas.
Desa ini terkenal sejak ditemukannya prasasti situs Kota Kapur pada masa kejayaan kerajaan Sriwijaya pada tahun 682 sebelum masehi.dan daerah tersebut dijadikan sebagai benteng kerajaan.sampai sekarang bukti peninggalan yang berupa candi-candi masih ada di desa tersebut dan terkubur di dalam tanah.tapi sebagaian dari bukti peninggalan desa terbebut banyak diambil baik bagi penduduk maupun dijadikan barang pajangan di museum seperti berbagai kerajinan tembikar dan prasasti bersegi delapan yang sekarang sudah berada berada di musium indonesia.
Masyarakat desa Kota Kapur dulunya adalah masyarakat yang bersifat metafisik karena di kehidupan mereka sehari-hari tidak jauh dari hal-hal yang bersifat mistis,seperti santet dan lainya.dulunya desa Kota Kapur diselubungi oleh mantra-mantra agar tidak diganggu oleh mahluk-mahluk karena pada saat itu mereka sering diganggu oleh mahluk halus dan kekuatan negatif lainnya.dan kebudayaan lainnya yang sering mereka kerjakan pada saat itu.
Seiring perkembangan zaman dan masuknya teknologi banyak budaya-budaya yang pudar bahkan hilang dari kehidupan masyarakat desa tersebut. Pemikiran mereka sudah beralih ke arah rasional, hal-hal yang bersifat mistis sudah mereka tinggalkan dan masyarakat desa Kota Kapur sekarang lebih mengutamakan mengumpulkan materi daripada hal yang bersifat kuno dan ketinggalan zaman.walaupun masih ada sebagian dari kebudayaan yang masih mereka pegang.
Budaya-budaya yang sudah hilang dari Desa Kota Kapur antara lain;

A.Taber Kampung
Taber Kampung adalah sejenis ritual yang berfungsi sebagai pengusir bala,mereka percaya bahwa dengan diadakan taber kampung maka desa mereka akan terlepas dari bala.prosesi taber klampung diadakan satu tahun sekali pada tanggal 28 april yang bertepatan dengan ulang tahun Desa Kota Kapur. Awal mulanya sesepuh  atau dukun kampung membaca doa-doa setelan itu satu persatu dukun tersebut memercikkan air yang telah diberi mantra-mantra
Ke setiap rumah yang ada di desa tersebut.
B. Metet
Seperti pada budaya desa lainya dimana metet adalah budaya memburu binatang seperti burung,tupai,dll yang menggunakan alat tradisional yaiti petet atau dalam bahasa indonesia yaitu ketapel.sekarang budaya tersebut sudah pudar dengan alat yang lebih modern yaitu menggunakan senapan angin.
C.Tari-tarian
Tari-tarian tradisional yang ada di desa Kota Kapur sudah hilang dimana dulunya didaerah tersebut banyak tari-tarian seperti dambus dan lainnya.sekarang sudah hilang dikarenakan pekerjaan dari mereka yang sudah terspesialisasi dan generasi penerus yang sudah tidak ada lagi.
D.Tradisi pemukulan tawa-tawa
Tawa-tawa adalah sejenis alat musik yang berbentuk seperti gong dengan ukuran yang lebih kecil. Tiap hari jumat tawa-tawa tersebut dipukul dan diarak keliling kampung.setelah itu masyarakat desa berbondong-bondong ke Mesjid untuk menjalankan tradisi nganggung.
Tradisi yang masih ada di Desa Kota Kapur:
A.Maulid Nabi
Pada saat perayaan maulid Nabi seperti di desa Kemuja dan lainnya,Perasaan di Desa Kota Kapur seperti lebaran.mereka menyediakan masakan dua kali lipat lebih banyak dari lebaran yang lain karena pada perayaan itu seluruh saudara datang ke Desa tersebut untuk bersilaturrahmi.
B.   Nganggung
Nganggung adalah tradisi yang dilaksanakan dengan membawa dulang yang berisi makanan ke mesjid. Setelah sampai di mesjid, mereka akan menyantap makanan itu secara bersama-sama. Tradisi ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar warga.



BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Banyak kebudayaan di desa Kota Kapur yang sudah hilang akibat pengaruh dari modernitas. Budaya yang telah mereka cipta sendiri semakin terkikis seiring meningkatnya arus globalisasi. Sebagian dari mereka seakan tak sadar dengan hal itu.dan hal tersebut membuat semakin tenggelamnya budaya yang menjadi ciri khas desa tersebut.
Teknologi yang semakin canggih dan masuknya budaya barat menyebabkan mereka buta akan kebudayaan dan alat yang berasal dari kebudayaan mereka.sehingga dengan berbagai faktor yang mempengaruhi mereka membuat keadaan sosiologis masyarakat yang berpegang teguh pada kebudayaan yang mereka miliki sekarang sudah pudar bahkan sebagian sudah hilang.ditambah lagi dengan minimnya upaya mereka untuk mengangkat kembali kebudayaan mereka dulu.
B.     Saran
Saran yang dikeluarkan oleh masyarakat Desa Kota Kapur yakni harapan mereka agar Pemerintah provinsi Bangka Belitung memperhatikan mereka,jangan hanya dijadikan alat birokrasi saja..mereka sudah bosan terhadap janji-janji yang diberikan oknum pemerintah.apalagi situs yang ada di daerah desa Kota Kapur merupakan salah satu sejarah peradaban dunia yang diakui yakni tentang kerajaan sriwijaya.

sumber penulis : Dede Surya Aprianda

Pantai Matras




Pantai landai berpasir putih halus sepanjang 3 km dilatarbelakangi pepohonan kelapa dan aliran sungai alami. Terletak di desa Matras, Kelurahan Sinar Jaya, Kecamatan Sungailiat, yang terletak disebelah Timur Laut Pulau Bangka. Pantai ini amat indah dan landai. Pasirnya putih dan halus. Panjangnya mencapai 3 km dan lebar 20 -30 meter. Pantai ini dilatarbelakangi pepohonan kelapa dan aliran sungai alami, hingga sering disebut sebagai Pantai Surga. Pantai ini merupakan pantai yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

sumber:

Musik Dambus

  
gitar dambus




Musik dambus adalah musik tradisional yang ada di  Provinsi Bangka Belitung. Musik ini dimainkan oleh beberapa orang. Yang paling utama dalam musik dambus adalah yang memainkan gitar dambus, gitar dambus memiliki 6 senar seperti gitar. Satu senar merupakan senar yang berdekatan. Sehingga jumlah senar sebenarnya adalah 12 buah. Selain itu senar dambus terbuat dari nilon yang biasanya digunakan untuk memancing. Yang uniknya gitar dambus memiliki ciri khusus yaitu kepalanya yang berbentuk kepala rusa. 

Kemudian ada yang berperan sebagai vokal atau penyanyi. seorang penyanyi dambus harus bisa memainkan kata yang kebanyakan lirik - liriknya berisikan nasehat, kejadian sehari - hari atau kritikan. lagu dambus biasanya ditutup dengan lirik pantun.Selain pemain gitar dambus dan penyanyi ada juga yang memainkan gong, gendang, krincing, dan ada juga yang mengunakan alat moderen sepeti biola untuk memperindah irama musiknya.

Musik dambus dengan irama denting dawai nya yang khas menyimpan sejuta rasa yang lain dibandingkan 
musik lain. Musik dambus dimainkan dengan diiringi lagu dan tarian khas melayu yang disebut dengan dincak.
gitar dambus
bagi sahabat semua yang penasaran atau mau dengar salah satu lagu dambus bisa download
 dibawah ini :








dibuat oleh :  Deri, 19 november 2011
referensi:


Pantai Air Anyer


Air Anyer


Pantai Air Anyer  terletak kira-kira 15 km dari Sungailiat dan di antara Kota Pangkalpinang dengan Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Pantai ini mempunyai keunggulan yaitu pantainya yang landai sehingga cocok untuk berenang, dan banyak ditemuka kerang putih, sehingga banyak orang mencari kerang dengan mengunakan alat tradisional. alat tersebut terbuat dari bambu. ada juga orang yang mencari ikan dengan mengunaka cari atau dalam bahasa daerahnya nebak ikan. Pantai ini juga digunakan oleh para nelayan setempat untuk berangkat ke laut setelah melakukan Upacara Adat Rebo Kasan yang sebagai ucapan syukur dan doa kepada Tuhan YME.
pagi yang cerah

Sayangnya fasilitas untuk mendukung pantai tersebut belum memandai, seperti penginapan, tempat sanitasi, jalan yang belum terawat, sehingga minat pengunjung dari dalam maupun dari luar daerah masih minim.




Musium Timah

 
MUSIUM yang menempati rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW) di Jalan Ahmad Yani no 179 Pangkalpinang ini menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan di Bangka Belitung khususnya dan dunia pada umumnya. Dari rumah yang juga memiliki nilai sejarah tinggi bagi kemerdekaan RI inilah kita bisa melihat rekam jejak pertambangan timah di Babel.


Museum ini didirikan tahun 1958 dengan tujuan untuk mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkanalkannya ke masyarakat. Pendirian museum ini berawal tahun 50-an ketika saat itu dalam kegiatan penambangan banyak ditemukan benda-benda tradisional yang digunakan oleh penambang jaman dahulu utamanya jaman Belanda. Baru pada 2 Agustus 1997 museum ini resmi dibuka sekaligus diresmikan sebagai Museum Timah oleh Dirut PT Timah saat itu Erry Riyana Hardjapamekas. Sebelumnya  pada masa Unit Penambangan Timah Bangka (UPTB) Museum Timah sudah ada hanya saja masih dalam skup kecil.




Dalam perkembangannya museum ini sangat berguna bagi masyarakat dimana didalamnya masyarakat bisa mengetahui sejarah pertimahan di Bangka Belitung, teknologi pertambangan dari jaman Belanda hingga yang terkini.

Minat masyarakat yang terus berkembang membuat PT Timah Tbk terus mengembangkan museum ini, tahun 2010 lalu misalnya PT Timah melakukan rehabilitasi mulai dari renovasi tata letak sehingga lebih fokus pada pertambangan, menambah materi-materi yang ada didalamnya sehingga alur sejarah pertambangan lebih nampak disini.



Komitmen PT Timah Tbk untuk memajukan museum ini juga nampak dari kerjasama yang dijalin dengan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota melalui dinas pariwisata dan dinas pendidikan. Dana yang dikucurkan untuk operasional museum inipun tak tanggung-tanggung mencapai Rp 30-40 juta per bulan. Ini termasuk untuk dana operasional harian, untuk gaji tenaga kerja dan perawatan.




Semua dana sampai saat ini memang masih menggantungkan sepenuhnya dari PT Timah Tbk karena pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk tempat ini, malah bagi pelajar diberikan kenang-kenangan berupa buku tulis setiap mengunjungi museum.




Museum Timah ini tidak hanya bermanfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat pada umumnya yang ingin mengetahui sejarah pertimahan, namun juga mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.






Museum Timah ini dibuka setiap hari,
- Senin s/d Kamis jam 08.00 s/d 12.00 & jam 13.30 s/d 17.00
- Jumat jam 08.00 s/d 11.00 & 13.30 s/d 17.00 
- Sabtu jam 09.00 s/d 12.00 & 13.00 s/d 16.00
- Minggu Jam 09.00 s/d 12.00 & 13.00 s/d 15.00

sumber :

Pantai Pasir Padi





Pasir Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka. Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa, Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu. Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.

Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka, menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak kagum melihat keindahan pantainya.

Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung Pesona, dan Pantai Rebo. Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar seperti saat hendak ke Pasir Padi.



Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.


Keindahan Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping sebagian kecil pendatang dari luar daerah.




Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.

Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat tempat hiburan karaoke dan diskotek. Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung, seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula, Pasir Padi menjadi tidak populer bagi pengunjung.







Postingan Lama Beranda
','10','singlecolumnsmallthumb' );
What is next?